Mengatasi Emosi Anak yang Ringan Tangan (suka memukul) dan apa kata Alkitab ?

Mungkin Anda sering kali mendapati anak Anda yang masih berusia dini atau yang duduk di bangku sekolah dasar menjadi seorang yang “ringan tangan”. “Ringan tangan” yang dimaksud bukan bermurah hati membantu orang lain, akan tetapi mudah sekali menggunakan tangannya untuk memukul orang lain misalnya jika ada keinginannya yang tidak terpenuhi. Apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi ini? Kembali memukul anak sebagai bentuk hukuman atas perbuatan anak tadi tentu bukanlah pilihan yang bijak. Kenali lagi sebab anak berperilaku, lalu bantu ia menyalurkan emosinya dengan cara yang benar.

Ada beberapa alasan mengapa anak menjadi sosok yang sering memukul orang di sekitarnya, atau mungkin termasuk Anda, orang tuanya. Jangan terburu-buru memarahi anak. Pahami dulu mengapa ia berperilaku demikian. Berikut ada beberapa hal yang mungkin menjadi alasan anak untuk memukul:

  1. Anak biasanya memukul untuk mengekspresikan emosi mereka.
  2. Anak bisa memukul jika ia merasa tempat pribadinya terganggu.
  3. Anak juga akan memukul jika ia merasa iri.
  4. Anak juga bisa memukul karena ia ingin punya kedudukan di antara teman bermainnya.
  5. Kekesalan anak juga bisa mendorong ia untuk memukul.

Banyak hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu memulihkan ketenangan emosi anak dan membantu anak untuk memahami emosinya sendiri. Beberapa misalnya:

 

  1. Anda bisa memberi pemahaman pada anak bahwa ia tidak bisa memiliki semua hal yang ingin ia miliki.
  2. Berikan pemahaman pada anak bahwa memukul bukanlah jalan keluar yang baik.
  3. Menjaga anak untuk terus berpikiran bahwa orang tuanya memahami dirinya dan semua emosi yang ia rasakan bisa membantu anak untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang baik.

 

Hal ini sebaiknya menjadi perhatian. Perilaku agresi remaja yang sering terjadi saat ini memiliki kecenderungan terjadi karena orang tua yang menolak menyelami emosi anak-anaknya di saat anak kehilangan arah dan butuh panduan.

Tidak ada yang mengatakan bahwa menjadi orang tua adalah perihal mudah. Terutama ketika Anda mendapati anak Anda berperilaku yang tidak semestinya. Sebagai orang tua, jangan terlalu cepat memberi label pada anak sebagai anak yang agresif atau anak yang memiliki gangguan perilaku. Anak yang masih berusia dini dan di usia sekolah dasar masih dalam tahap belajar berinteraksi sosial. Perilaku memukul pada anak hanya sebagai tanda bahwa orang tua harus lebih terlibat dalam interaksi sosial anak dan memberikan dukungan penuh dan memberi waktu lebih kepada anak anak nya baik dalam berbagai hal . Memahami emosi anak juga bisa menjadi titik awal yang baik. Anak yang nyaman secara emosional akan lebih mudah untuk mengontrol emosinya, tidak hanya saat ini, tapi hingga nanti ia menginjak usia dewasa.

 

terjemahan Seminar Child Discipline oleh Shirley Brownhill, direktur Youth With A Mission Perth.

>>1. Prinsip pertama dalam mendidik anak, adalah orang tua harus mengajar anak dalam Takut akan Tuhan. Artinya begini, orang tuanya harus lebih dahulu punya rasa takut akan Tuhan dalam mendidik anak. Si anak pasti akan ‘membaca’ kalau orang tuanya adalah orang tua yang takut akan Tuhan, maka dia juga akan belajar takut akan Tuhan.

>> 2.Pelajaran pertama yang harus diajarkan kepada anak adalah ” tidak ” Sejak usia dini anak anak harus belajar menerima kata : tidak! Kalau sejak kecil si anak tidak pernah diajarkan untuk menerima kata ‘tidak’ maka yang repot adalah orang tua. Bayangkan jika semua keinginannya harus dipenuhi. Semua boleh. Si anak akan menganggap dirinya ‘raja kecil’ yang semua harus ikut pada kemauannya. Akibatnya yah itu : disuruh tidur susah, disuruh makan ya susah, disuruh mandi ya susah disuruh ke sekolah yah susah.

Si anak menganggap dia adalah raja kecil yang berhak memerintah dirinya sendiri dan tidak bisa diperintah orang lain.

Banyak anak sudah mengembangkan sikap macam ini sejak kecil. Apalagi anak anak yang besar di tangan baby sitter, pengasuh, pembantu, oma & opa. Biasanya golongan orang semacam ini, karena berbagai sebab, paling tidak bisa berkata ‘tidak’ kepada sang anak. Jika seandainya keadaan tidak memungkinkan orang tua untuk menjaga anak, misalnya karena pekerjaan, atau bepergian, maka orang tua terpaksa harus memakai baby sitter atau pengasuh (oma, opa dll) harap diingat: ‘otoritas’ tetap ada pada orang tua : ayah dan ibu. Dan kalau sang anak terpaksa harus ditinggal di rumah, maka orang tua boleh mendelegasikan otoritasnya kepada pengasuh dengan pesan pesan, misalnya ini boleh, itu tidak. Jadi harus ada ‘boundaries’ ( apa sih bahasa Indonesianya yang tepat?) yang ditetapkan. Dengan kata lain, sang pengasuh/pembantu juga akan memegang perintah berdasarkan otoritas dari orang tua untuk berkata tidak atau ya.

Pernah juga ada berita tentang seorang penginjil TV yang terkenal di Amerika yang jatuh kedalam dosa. Ternyata setelah diselidiki, dia paling tidak bisa mendengar kata ‘tidak’ dari staff staff nya. Artinya segala keinginannya harus dipenuhi. Sehingga sewaktu dia sudah mau jatuh dalam dosa, yah, tidak ada orang yang berani melarangnya, yah, akibatnya benar benar jatuh!

Kesimpulannya, orang tua harus menetapkan ‘boundaries’ untuk anaknya. Mana yang boleh dan mana yang tidak. Demikian, si anak akan belajar untuk tunduk pada otoritas, dan tidak membangun kerajaannya sendiri dan menjadi raja kecil atau monster kecil y ang semua keinginannya harus diikuti.

3. Pelajaran ketiga si anak harus diajarkan untuk ‘meminta maaf’. Jika seorang anak melakukan kesalahan ada 2 hal penyebabnya : pertama si anak memang tidak tahu itu salah, atau dia tahu hal itu salah. Jika salah, maka adalah kewajiban orang tua untuk memberi tahu bahwa apa yang dilakukan anak itu salah. Dan kemudian mengajarkan anak untuk meminta maaf jika dia salah. Ini adalah sangat penting.

Jika kemudian tetap melakukan kesalahan yang sama, anak itu boleh didisiplin dengan tingkat lebih ‘tinggi’.

Alkitab berbicara tentang kebodohan melekat pada hati seorang muda (Amsal 22:15) Dalam Terjemahan NKJV dikatakan Foolishness is bound up in the heart of a child, The rod of correction will drive it far from him.

Kebodohan disini berarti anak anak belum banyak tahu. Itulah sebabnya mereka perlu belajar, mereka perlu disiplin. Karena itu adalah tugas orang tua untuk memberitahukan kepada seorang anak jika sang anak melakukan kesalahan.

Tetapi jika setelah diberi tahu, anak itu tetap tidak mau dengar, maka ada ‘rod of correction’.

Saya punya pengalaman unik, sewaktu saya ikut tour penginjilan dari Perth ke Darwin beberapa tahun lalu. Setiap kali ibadah di gereja, saya perhatikan dari dalam tas ibu ibu yang bawa anak, suka nongol ‘sendok kayu’ yang biasa dipakai untuk mengaduk nasi dalam dandang. Saya pikir buat apa tuh bawa bawa sendok nasi. Udah pake baju keren, tas keren ke gereja. Eh..setelah diselidiki ternyata sendok kayu itu buat ‘smack’ anaknya kalau lagi bawel. Tongkat koreksi untuk anak.

Memang ada banyak orang yang tidak setuju dengan memukul anak, tetapi Alkitab berbicara tentang ‘tongkat koreksi’.

Amsal 23:13 Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. 14 Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.

Terjemahan NKJV berbunyi : You shall beat him with a rod, and deliver his soul from hell. Artinya kalau kita mendisiplinnya dengan tongkat koreksi, kita menyelamatkan jiwanya dari neraka.

Ingat, Alkitab tidak berbicara tentang memukul dengan tangan kosong, tetapi memukul dengan rotan atau tongkat koreksi.

Jadi kita tidak memukul langsung dengan tangan, tetapi dengan tongkat koreksi. Jangan pakai pentungan SATPAM, tetapi cukup dengan sendok kayu dari bahan kayu ringan. Biasanya kayu jenis ini mudah patah, jadi kalau terlalu keras pukulannya maka sendok kayu ini akan patah. Jadi ini cukup aman, sebab bukan tulang yang patah.

Jangan sekali kali memakai anggota tubuh (tangan, kaki) untuk memukul dan jangan sekali sekali memukul dibagian muka atau tubuh lainnya selain pantat. Dan ingat, mengapa Tuhan memberikan pantat yang agak ‘tebal’?, Saya kira supaya bisa dipakai untuk tempat disiplin khusus untuk anak anak.

Ada cerita pernah seorang anak marah marah sambil menuding nuding sebuah ikat pinggang. Saya benci kamu, saya benci kamu, katanya pada ikat pinggang itu. Rupanya ayahnya sering memukul dia dengan ikat pinggang. Tapi ini bagus, dalam arti kata, anak itu tidak membenci ayahnya, tetapi hanya ikat pinggang ayahnya.

Biasanya si anak akan menangis kalau didisiplin. Mengapa Tuhan memberikan air mata? Airmata adalah air bilasan yang keluar dari hati untuk hati itu dicuci dari kesalahannya.

Apakah langkah selanjutnya setelah si anak dikoreksi ? Jika dia telah menyesal atas kesalahannya, berilah sebuah rangkulan atau dekapan kepadanya dan katakan : mama, sayang kamu ! Ini cara yang paling baik untuk membalut ‘sakit hati’ seorang anak setelah didisiplin.

Dengan demikain si anak akan belajar, bahwa orang tuanya tidak membencinya, tetapi mengasihinya. Jadi ada disiplin dan ada kasih. ( Prinsip Law & Grace : Peraturan harus ditegakkan tetapi atas dasar kasih )

Beberapa Ayat tentang disiplin anak:

  • Amsal 10:1 Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.
  • Amsal 29:15 Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.
  • Amsal 19:18 Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.
  • Amsal 29:17 Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.

Dalam Alkitab banyak kisah tentang anak anak durhaka – karena orang tuanya gagal mendisiplin anak.

Eli adalah hamba Tuhan yang dipakai luar biasa, tetapi gagal mendisiplin anak anaknya dalam takut akan Tuhan ( I Samuel 2: 22 – 25)

Yakub karena favoritisme-nya kepada Yusuf – menyebabkan saudara saudaranya membencinya dan menjualnya. Akibatnya Yakub harus menanggung kedukaan yang mendalam karena kehilangan Yusuf.

Kata kunci : Disiplin & Tidak! adalah paling penting dalam membesarkan seorang anak.